Rabu, 16 Januari 2008

Dari Poso Untuk Indonesia

Dari Poso Untuk Indonesia


Jangan Kubur Harapan Warga Poso
Di Tulis Oleh Wartawan Kompas REINHARD NAINGGOLAN semasa sebagai koresponden Palu, Kini Rei di panggil teman-teman di Poso, telah ditarik ke Jakarata oleh Kantor tempat ia bekerja. Rei teman yang baik.


Apa yang diharapkan warga Poso saat ini bukanlah sebuah harapan yang muluk-muluk. Mereka hanya ingin menjalani kehidupan dengan tenang, aman, dan damai. Mereka hanya ingin bekerja dengan baik sehingga mampu menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya. Hanya itu!
Cobalah jalan-jalan ke berbagai pelosok Kabupaten Poso dan berbincang-bincang dengan warga yang berasal dari agama apapun. Kita akan mendengar bagaimana mereka bercerita tentang pahitnya kehidupan warga Poso pascakonflik horizontal 1998-2000, seperti keluarga yang tercerai-berai dan kemiskinan yang berkepanjangan. “Pertikaian hanya membawa kesengsaraan dan penderitaan,” kata Oftis Farlin (31), warga Desa Sintuwulemba, Kecamatan Lage, yang menganut agama Kristen.
Kita juga akan mendengar bagaimana warga Poso sangat yakin jika konflik di Poso bukanlah karena perbedaan agama mereka, tetapi karena ulah provokator yang memecah belah mereka dengan mengusung isu SARA. “Dulu kami lalai. Sekarang kami tidak akan mau diprovokasi lagi,” kata Supriyati (26), warga Muslim dari Desa Sintuwulemba, yang suaminya terbunuh saat konflik.
Harapan akan datangnya pedamaian di Poso tidak hanya disampaikan warga Sintuwulemba. Selain dari desa yang menjadi wilayah konflik Poso terbesar dan paling banyak memakan korban jiwa itu, besarnya harapan perdamaian juga terlontar dari warga di bekas wilayah konflik lainnya, seperti dari Desa Tongko di Kecamatan Lage, Desa Taunca di Kecamatan Poso Pesisir Selatan, dan Desa Kamba di Kecamatan Pamona Timur, Poso.
Kesengsaraan dan penderitaan akibat konflik memang telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi warga Poso. Karena itulah, saat ini mereka telah hidup berdampingan dan mempraktekkan makna sejati pluralisme dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, ketika itu semua mereka lakoni, perdamaian di Poso seakan tak kunjung terwujud. Pascakonflik, warga Poso masih terus mendengar, melihat, dan menjadi korban berbagai aksi-aksi kekerasan bersenjata, mulai dari penembakan, pemenggalan kepala, sampai pemboman rumah ibadah dan pasar-pasar. Bahkan, di setiap bulan Ramadhan, rentetan tembakan dan suara ledakan bom menjadi bunyi-bunyian yang akrab di telinga warga Poso.
Siapa dalang dari semua aksi-aksi itu serta apa motifnya masih kabur dan misterius. Pemerintah dan aparat keamanan hanya mengatakan, mereka adalah provokator-provokator yang menginginkan Poso kembali rusuh.
Minggu lalu, bentrokan antara aparat polisi dan warga Keluarahan Gebang Rejo menambah daftar panjang aksi kekerasan di Poso. Bentrokan yang mengakibatkan seorang warga tewas itu belum diketahui persis apa penyebabnya. Kepolisian mengatakan, warga Gebang Rejo yang terlebih dahulu melakukan penyerangan terhadap Pos Polisi Masyarakat (Polmas) serta membakar sebuah truk dan tiga sepeda motor polisi. Sedangkan Ketua Forum Silaturahim Umat Islam Poso Adnan Arsal mengatakan, justru polisi yang terlebih dahulu melakukan penyerangan di Tanah Runtuh—lokasi Pondok Pesantren Amanah pimpinan Adnan Arsal yang berada di tengah-tengah Gebang Rejo.
Sehari setelah pemenggalan kepala tiga siswa SMA Kristen Poso pada November 2005 lalu, Kepala Polri Jenderal Sutanto mengatakan, itu adalah ulah pihak luar yang ingin kembali mengadu domba warga Poso. Beberapa hari setelah penembakan Sekretaris Umum Gereja Kristen Sulawesi Tengah Pendeta Irianto Kongkoli Kepolisian Daerah Jawa Tengah juga melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah warga di daerah itu yang disinyalir kerap datang ke Poso tanpa alasan yang jelas.
Juni lalu, polisi berhasil menangkap Hasanudin, Haris, Irwanto, dan Jendra yang mengaku sebagai pelaku sejumlah penembakan, pemenggalan, dan peledakan bom di Poso maupun Palu. Satu dari mereka adalah warga Jawa Tengah yang datang ke Poso saat konflik.
Saat menjadi Komandan Komando Keamanan Sulteng, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Paulus Purwoko mengatakan, ada sebuah kelompok kecil di Poso yang kerap melakukan aksi-aksi kekerasan dan memprovokasi warga agar kembali bertikai. Kelompok kecil itu sangat terorganisasi dan memiliki keahlian tinggi dalam melakukan berbagai aksi-aksi kekerasan bersenjata.
Paulus menambahkan, kelompok yang memiliki paham yang keliru tentang agamanya itu juga berafiliasi dengan kelompok-kelompok radikal berbasiskan agama yang ada di dalam maupun luar negeri. “Beberapa anggota kelompok itu pernah dilatih di Afganistan,” kata Paulus.
Adanya sebuah kelompok radikal di Poso yang memahami agamanya dengan tidak benar juga diakui oleh Ustad Abdul Gani Israil—tokoh agama Islam di Poso yang dikenal dengan ceramah-ceramahnya yang menyejukkan. “Masih ada kelompok-kelompok liar di Poso yang mudah melakukan tindakan anarkis. Mereka melakukan itu karena doktrin Islam yang salah,” kata Gani.
Semua analisa aparat kepolisian diatas yang dipadu dengan kondisi riil masyarakat akar rumput di Poso memang dapat mengindikasikan adanya provokator dari luar Poso. Namun, siapa provokator itu, siapa dibalik mereka, dan mengapa mereka masih menginginkan terjadinya konflik Poso harus diungkap agar tidak menjadi tanda tanya besar.
Ketidakberhasilan aparat keamanan mengungkap siapa para provokator itu telah mengakibat saling curiga antar berbagai elemen masyarakat di Poso semakin meningkat. Saling curiga itu mulai dari antar komunitas, dari masyarakat kepada aparat keamanan, dari sebuah institusi keamanan terhadap institusi keamanan lain, bahkan dari aparat keamanan terhadap LSM. Warga Poso akhirnya kehilangan pegangan, tidak memiliki figur, baik pribadi maupun lembaga, yang dapat dipercaya sepenuhnya.
Tiadanya figur maupun lembaga yang dapat dipercaya serta upaya provokasi yang tidak pernah berhenti, dikhawatirkan dapat mengikikis keteguhan warga Poso untuk tidak kembali menjadi korban provokator.
Selain harus mengungkap siapa provokator itu, Gani mengatakan, pemerintah juga harus melakukan recovery ekonomi di Poso. Pascakonflik, perekonomian di Poso jalan di tempat sehingga mengakibatkan jumlah pengangguran meningkat tajam, termaksud yang berasal dari keluarga korban konflik Poso. “Mereka yang tidak memiliki pekerjaan dan masa depan yang jelas lebih mudah diprovokasi dan diajak untuk melakukan tindak kekerasan. Inilah salah satu persoalan yang luput dari perhatian pemerintah,” kata Gani.
Persoalan di Poso memang begitu kompleks dan memerlukan perhatian besar dari semua pihak, mulai dari tokoh-tokoh masyarakat, agama, aparat keamanan, pemerintah dan masyarakat akar rumput sendiri. Harapan warga untuk hidup damai agar dapat bekerja dengan tenang untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak jangan menjadi terkubur oleh ulah-ulah siapa saja yang tidak bertanggungjawab. (REINHARD NAINGGOLAN)